Senin, 02 Januari 2017

Tugas 4 Perbandingan negara asia



Kemajuan Industri Korea Selatan
Ekonomi dibangun dengan membangun industri-industri standar negara berkembang, tekstil, sepatu, yang mudah dan ringan. Tapi pemerintah sudah sekaligus mempersiapkan segalanya, infrastruktur, sumberdaya, dan pengetahuan untuk level industri selanjutnya. Industri berat dan strategis, baja, otomotif, perkapalan. Bukan untuk dimajukan, tapi untuk mengusai dunia.
Sejak awal, strategi besar Korea adalah export oriented. Mereka harus mempersiapkan diri dan berjuang untuk merebut pasar dunia, Ini akibat dari keadaan yang sama seperti Jepang, sumberdaya alam yang sangat terbatas dan pasar dalam negeri yang kecil. Export Oriented, Berjuang keras sejak dini untuk merebut pasar dunia. Pemerintah memberikan dukungan yang kuat untuk dunia usaha. Infrastruktur, modal yang murah, pajak rendah untuk industri unggulan, dan, sumberdaya manusia berkualitas tinggi. Birokrasi dibuat super efisien dan berkualitas tinggi. Para birokrat dididik dengan proses belajar dan disiplin kelas dunia. Hanya yang terbaik yang ada dalam birokrasi. Yang tidak efisien, langsung dipotong. Tidak ada waktu untuk birokrasi korup.Para konglomeratnya, Hyundai, Samsung, dan LG juga adalah pejuang yang sangat nasionalis. Mereka pada dasarnya akan berjuang mati-matian menembus pasar dunia demi kemajuan bangsa Korea. Dengan, atau tanpa bantuan dari pemerintah.
            Para pemimpin Korea juga punya visi yang sangat maju dalam penyerapan dan pengembangan teknologi. Inilah kunci dari semua bangsa-bangsa termaju. Tahun 1959, pemerintah Korea sudah mendirikan Korean Atomic Energy Commision. Pertengahan tahun 1960, Kementerian Sains dan Teknologi dibentuk. Lalu Korea Institute of Science and Technology yang dibentuk untuk riset industrial. Dan setelah itu, proses pembelajaran sains dan teknologi dilakukan secara besar-besaran. Para ilmuwan asing dan segala macam teknologi terbaru dari Barat diserap habis-habisan. Persis seperti Jepang. Riset dan penelitian digalakkan, orang-orang serta badan-badan riset yang unggul diberi dana yang sangat besar oleh pemerintah. Industri-industri dengan potensi pasar masa depan yang besar dianalisis dan dikejar habis-habisan, baik oleh pemerintahnya maupun swasta.Industri-industri utama Korea Selatan sekarang adalah otomotif, semikonduktor, elektronik, pembuatan kapal, dan baja. Korea juga dengan intens mengembangkan industri-industri strategis masa depan, seperti Nanoteknologi, Bioteknologi, Teknologi Informasi, Robotika, dan teknologi ruang angkasa.
Korea juga mempunyai robot humanoid ke 2 di dunia, HUBO, robot berkepala Einstein. (Robot humanoid pertama dunia adalah Asimo dari Jepang). Korea juga berambisi menjadi "World's Number 1 Robotics Nation”, bangsa pengguna robot terbesar dunia, 2025 nanti.
Pembangunan manusia-manusia unggul. Manusia-manusia unggul yang punya kemampuan tinggi dalam menyerap ilmu dan teknologi. Pembangunan manusia-manusia unggul, lewat pendidikan unggul. Pendidikan terbaik di dunia. Sejak lama, pemerintah telah berjuang agar anak-anak Korea memiliki nilai matematika dan sains yang tinggi. Tidak dalam ukuran Korea sendiri, tapi dalam skala global. Jadi sistem pendidikan terbaik di dunia harus dibentuk. Ahli-ahli pendidikan terbaik di dunia, pakar-pakar sains dan teknologi termaju didatangkan untuk membentuk sistem pendidikan Korea. Berbagai usaha dilakukan agar universitas-universitas di Korea bisa sejajar, dengan Harvard dan MIT, terutama dalam advanced science dan technology.
            Sejak awal 70-an, walaupun sangat berat, pemerintah telah memberikan lebih dari 20% anggarannya untuk mengakselerasikan proses belajar bangsa itu. Untuk menciptakan generasi super cerdas. Anak-anak Korea juga didorong untuk belajar ke kampus-kampus paling terkemuka dunia, Harvard, Princeton, MIT. Dan Korea telah berhasil. Tingkat IQ Korea secara nasional adalah yang tertinggi di dunia.
Dan anak-anak Korea juga memiliki ranking teratas dalam kemampuan matematika, sains, problem solving, dan membaca dalam peringkat OECD, Organisation for Economic Co-operation and Development.
Ribuan orang Korsel yang menikmati pendidikan di luar negerinya, tetap saja bangsa Korea mencerminkan tradisi dan pembawaan (conditioning) Shamaisme (kepercayaan tradisional), Konfusianisme dan Buddhisme selama ribuan tahun. Yang sangat kuat adalah pengaruh moral dan etika Konfusius dan disusul Buddhisme, kemudian dengan moral dan etika Kristen yang berkembang pula. Hal ini dapat dilihat dari komposisi penduduk Korsel berjumlah 49,1 juta yang sekira 11,7 juta (24,6%) pemeluk agama Buddha, sekira 9,3juta (19,3 %) adalah pemeluk agama Kristen dan mayoritasnya pemeluk Konfusius.
Di permukaan, sosok manusia Korsel tampil serius, gesit tidak mengenal lelah dan sikap individualistis dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab. Ada kemiripannya dengan gurunya, Jepang, yaitu dalam sense of patriotism, orientasi pada prestasi dan harmoni dalam kebersamaan. Memang ada kalangan akademisi maupun pebisnis tidak mau diberi predikat murid atau meniru gaya Jepang.
Dalam kebanyakan perusahaan Korsel, keputusan strategis dibuat oleh direksi, termasuk satu atau dua anggota keluarga pemilik sebagai pendiri. Pengaruh Konfusianisme yang mengalir dalam organisasi bisnis bahkan pemerintahan adalah:
Ø  kesetiaan total pada suatu struktur hierarkis: orang tua, keluarga, klan, komunitas, dan bangsa;
Ø  patuh kepada orang tua (duty to the parents), yang mencakup kesetiaan, cinta kasih, dan rasa berterima kasih, terutama kepada ibunda, yang biasanya digambarkan sebagai simbol kebajikan, tidak egoisme dan senantiasa berkorban (sacrifice).
Ø  harmoni dalam dan antar-kelompok,
Ø  keteladanan pemimpin,
Ø  nilai nilai moral lebih dihargai daripada kompetensi keahlian saja.
Agak berbeda dengan gaya berbisnis Jepang, seringkali antar-karyawan Korsel terdengar ungkapan koenchanayo yang berarti alright, that is good enough, sekalipun belum sesuai hasil yang diharapkan. Secara positif ada maksud untuk toleransi dan menghargai orang lain. Kalau pelaku bisnis Jepang mengejar zero defect dan menerapkan Kaizen atau continuous improvement, maka pihak Korsel lebih toleran pada adanya defect untuk mereka usahakan perbaikannya.
Sikap individuaalistis bangsa Korsel dalam berbisnis lebih banyak menonjol. Hal itu disebabkan oleh pergolakan dan tekanan tekanan yang dialami setiap individu dalam lingkungan masyarakat. Di Korsel apa yang disebut job-hopping (pindah-pindah kerja), apalagi yang terhitung terampil (skilled) dapat diterima oleh masyarakat di mana seseorang bermukim.
Disiplin dalam masyarakat Korea sangat menonjol. Soalnya, setiap pria harus menurut Undang-Undang (UU) setempat harus masuk wajib militer selama sekitar tiga tahun setelah lulus sekolah lanjutan atas. Setelah tamat mengikuti wajib militer, mereka juga diberi bekal pengetahuan, kursus pendek untuk bisa kembali ke jalur masyarakat sipil, termasuk keuletan bertahan hidup yang keras. Dan, gaya manajemen masih top-down. Dengan bekal semacam itu, maka kecepatan kerja, efisiensi dan biaya tenaga kerja tetap dapat bersaing menghadapi Jepang.
Sekalipun tampak perbedaan dalam budaya dan asal usul (heritage) dengan Jepang, tapi terdapat beberapa kesamaan bagi bangsa Korsel, yaitu kondisi keduanya dalam arti kelangkaan Sumber Daya Alam (SDA), wilayah yang sempit, penduduk yang memiliki motivasi untuk belajar dan menggali ilmu pengetahuan dan keterampilan (skill). Kebijakan inudstri yang dianut Korsel benar-benar mengagumkan. Masyarakat dunia bisa menyaksikan bagaimana arah kebijakan itu membawa hasil, sekalipun di sana sini terdapat kelemahan dalam over-investasi oleh para konglomerat. Selain ternyata ada juga yang mengalami kemerosotan, hingga ada sejumlah chaebol sejak tahun 1998 banyak yang harus dipailitkan.
Berbagai sektor dalam industri mereka mencuat sebagai akibat agresitivitas dalam menyerap teknologi. Hal ini mereka lakukan dengan bermitra dengan berbagai perusahaan luar negeri. Dalam dekade 1980an, Lucky Goldstar Group bermitra dengan Hitachi (Jepang) dan dengan Siemens Jerman untuk Tele-electric. Goldstar Electric dengan NEC Jepang, dan lainnya. Demikian pula rintisan Samsung dengan Sumitomo. Di sektor otomotif, Hyundai, KIA, dan lainnya.
Bermitra secara resmi bagi perusahaan besar Korsel merupakan metode paling nyata (visible) dari perolehan ketrampilan teknologi. Transfer know-how mampu mereka kerjakan karena motivasi Sumber Daya Manusia (SDM)-nya sangat tinggi untuk belajar dan terus belajar. Dalam bidang manajemen teknologi, bahkan pernah terungkap semacam slogan “Kerjakan apa yang pernah dilakukan oleh Jepang, tapi lakukakan dengan biaya lebih murah dan lebih cepat”. Antara harapan dan kenyataan senantiasa terdapat kesenjangan (gap). Dan, hal ini yang senantiasa dihadapi setiap bangsa termasuk korea Selatan. Kegagalan berarti mulai lagi dengan semangat baru.
Dibandingkan dengan Jepang, berbagai produk otomotif dan elektronika yang menjadi andalan Korsel, harga ekspor maupun yang dirakit di negara tujuan investasi sekitar 20% lebih murah, sekalipun dalam mutu teknologinya masih satu kelas di bawah Jepang.
Ketika tahun 1997 terjadi krisis finansial menjadi krisis ekonomi, yang diawali Thailand dan menjalar ke Korsel, Malaysia, Indonesia dan Filipina, ternyata Korsel merupakan korban yang paling parah dari krisis tersebut. Dengan tekad membaja untuk keluar dari krisis ekonomi, maka bangsa Korsel yang saat itu di bawah kepemimpinan Kim Dae Jung dengan membangun common platform bersama pihak oposisi –sekalipun ada perbedaan pendirian dalam mencari pemecahan atau solusi terhadap krisis– berhasil hanya dalam dua tahun.
Dr. Soogil Young dalam Riding the Wave of Globalization: Korea’s Experiences and Lesson for Indonesia (ceramah 21 Juli 2001) sudah jauh-jauh hari memaparkan pengalaman pahit bangsa Korsel ketika menghadapi krisis finansialpada 1997.
Sebelum tahun 1997 paradigma pembangunan Korsel sejak 1960-an sampai awal 1990-an yang dianggap oleh berbagai pengamat cukup berhasil, terdiri dari empat pilar:
  1. perekonomian yang dimanaje oleh pemerintah (government managed),
  2. perekonomian berlandaskan perusahaan nasional (national firm based),
  3. perekonomian berlandaskan sumberdaya (resource based)
  4. sistem kesejahteraan perusahaan (corporate welfare system).
Hal yang dimaksud dengan perekonomian yang dimanajeri pemerintah di Korsel adalah peranan pemerintah dominan dalam alokasi sumber daya untuk pembangunan. Pemerintah memakai lembaga keuangan sebagai instrumen pembiayaan pembangunan.
Perekonomian yang berlandaskan perusahaan nasional memberi proteksi pada perusahaan domestik dalam pembangunan teknologi. Dengan alasan ini dikembangkanlah chaebol alias organisasi konglomerasi, yang ternyata beberapa diantaranya tidak mampu mengatasi krisis tahun 1997, sehingga cukup banyak diantaranya diharuskan menyatakan diri palit. Dalam hal perekonoimian berlandaskan sumber daya, pemerintah membuat SDM dan modal tumbuh, serta kurang memfokus pada inovasi dan pertumbuhan teknologi.
Sistem kesejahteraan perusahaan mengharuskan perusahaan menyelenggarakan kesejahteraan sosial yang sesungguhnya menjadi tugas pemerintah dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Ternyata, paradigma pembangunan yang dianut Korsel ada kemiripan dengan Indonesia sebelum krisis 1997, yakni melalui Trilogi Pembangunan Nasional yang mengutamakan “stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan”, atau yang dikenal dengan “dampak penetesan pembangunan” (trickle down effect). Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Korsel senantiasa tidak mau putus asa, sekalipun banyak tekanan yang dilakukan chaebols yang banyak memiliki posisi monopoli atau oligopoli.
Dengan menengok ke belakang, maka tanpa ragu langkah paling utama adalah merespons pada krisis kepemimpinan (leadership crisis) yang langsung diusahakan pemecahannya dengan memilih Kim Dae Jung sebagai pemimpin. Dalam waktu singkat tahun 1999 mampu keluar dari resesi akibat krisis tersebut.
Korsel dibawah Kim Dae Jung dikenal tanpa lelah bertekad, sekalipun ada oposisi yang wajar sebagai layaknya dalam demokrasi dan sistem nilai Korea “mendayung di atas gelombang globalisasi” (riding the wave of globalization). Sadar bahwa berada di atas gelombang globalisasi berarti bersama para raksasa, yaitu AS dan Eropa di barat dan di Timur bersama Jepang. Korsel sadar tidak mau terjebak dalam crisis complacency cycle atau siklus puas diri berhasil mengatasi krisis.
Korsel memang pernah menerima resep Dana Moneter Internasional (IMF), namun Kim Dae Jung tidak membatasi diri pada resep IMF, tetapi justru melangkah yang lebih strategis dengan menangani krisis struktural dalam empat sektor:
  1. Restrukturisasi sektor bisnis,
  2. Restrukturisasi sektor finansial/keuangan,
  3. Restrukturisasi pasar tenaga kerja,
  4. Restrukturisasi sektor publik/pemerintahan.
Hal yang menarik adalah ketegasan Kim Dae Jung langsung menangani reformasi bisnis korporat dengan fokus pada chaebols dengan mendesakkan pengelolaan yang bertanggung jawab (corporate governance). Hasil dari ketegasan langkah itu adalah adanya chaebol yang gulung tikar atau dimergedengan lainnya. Obat langsung yang dikerjakan oleh Kim Dae Jung membawa hasil yang mengagumkan, sekalipun di sana sini ada kelemahan.
Kim Dae Jung diganti oleh Roh Moo Hyun akhir 2002, dan dasar-dasar reformasi maupun restrukturisasi yang diprakarsai Kim Dae Jung dilanjutkan oleh penerusnya.
Keberhasilan mereka terpulang pada elan vital masing-masing individu bangsa Korsel dan peran kepemimpinan yang memiliki tekad good governance yang bukan slogan. Hal itu terbukti dengan dihukumnya putra Presiden Kim yang melanggar hukum lantaran berkorupsi. Supremasi hukum tetap dijunjung.
Dengan paradigma baru dalam melangkah internasionalisasi bisnis, yaitu suatu perekonomian berdasarkan pengetahuan (knowledge base economy) dan gairah memberi substansi pada perekonomian kemakmuran (welfare state economy) merupakan strategic intent yang tidak kalah pentingnya.
Investasi dalam modal manusia (human capital) dan kembali menyesuaikan diri pada disiplin pasar, serta persaingan internasional/global. Perjalanan transformasi itu tidaklah mudah, tapi hambatan hambatan yang dialami bangsa Korsel sendiri dalam menyesuaikan diri pada kelembagaan dan standar-standar baru.


KESIMPULAN

Dari uraian diatas mengenai negara Korea Selatan. Pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat bukan disebabkan oleh salah satu kebijaka ekonomi, entah itu berupa liberalisasi impor ataupun reformasi nilai kurs, semata-mata. Korea Selatan reformasi kebijakan dilakukan secara eksentif, dan tidak hanya menyangkup perubahan insentif ekonomi melaikan lebih mendasaar berupa penyusunan kembali hubungan antara sektor pemerintah dan swasta. Aspek historis juga sangat berpengaruh terhadap kemajuan negara Korea Selatan, termasuk kepentingan dan bantuan dari Amerika Serikat yang ektensif maupun struktur sosial dan politik yang khas, memberikan landasan pokok bagi upaya reformasi. Kebijakan pemerintah jelas merupakan input pokok bagi upaya pembangunan eekonomi. Korea Selatan mengalami berbagai kemajuan. Dalam bidang ekonomi berbagai sektor dalam industri mereka mencuat sebagai akibat agresitivitas dalam menyerap teknologi.
Perekonomian yang maju dan teknologi yang semakin canggih salah satunya disebabkan oleh gaya manajemen perusahaan Korsel, baik yang berskala besar konglomerat “chaebol” maupun yang menengah dan kecil senantiasa mencerminkan nilai dan filosofi dasar yang mereka anut. Secara keseluruhan perusahaan memberi tekanan pada harmoni antar-manusia, rasa menyatu, kerjasama, pengabdian, sikap rajin kerja, orisinalitas dan kreativitas dan mengejar pembangunan pribadi.
Export oriented, Korea Selatan harus mempersiapkan diri dan berjuang untuk merebut pasar dunia, Ini akibat dari keadaan yang sama seperti Jepang, sumberdaya alam yang sangat terbatas dan pasar dalam negeri yang kecil. Export Oriented, Berjuang keras sejak dini untuk merebut pasar dunia. Pemerintah memberikan dukungan yang kuat untuk dunia usaha. Infrastruktur, modal yang murah, pajak rendah untuk industri unggulan, dan, sumberdaya manusia berkualitas tinggi. Birokrasi dibuat super efisien dan berkualitas tinggi. Para birokrat dididik dengan proses belajar dan disiplin kelas dunia. Hanya yang terbaik yang ada dalam birokrasi. Yang tidak efisien, langsung dipotong. Tidak ada waktu untuk birokrasi korup.Para konglomeratnya, Hyundai, Samsung, dan LG juga adalah pejuang yang sangat nasionalis. Mereka pada dasarnya akan berjuang mati-matian menembus pasar dunia demi kemajuan bangsa Korea. Dengan, atau tanpa bantuan dari pemerintah.
Pembangunan manusia-manusia unggul. Manusia-manusia unggul yang punya kemampuan tinggi dalam menyerap ilmu dan teknologi. Pembangunan manusia-manusia unggul, lewat pendidikan unggul. Pendidikan terbaik di dunia. Sejak lama, pemerintah telah berjuang agar anak-anak Korea memiliki nilai matematika dan sains yang tinggi. Tidak dalam ukuran Korea sendiri, tapi dalam skala global. Jadi sistem pendidikan terbaik di dunia harus dibentuk. Ahli-ahli pendidikan terbaik di dunia, pakar-pakar sains dan teknologi termaju didatangkan untuk membentuk sistem pendidikan Korea. Berbagai usaha dilakukan agar universitas-universitas di Korea bisa sejajar, dengan Harvard dan MIT, terutama dalam advanced science dan technology.